Tidak Mudah

Saat menulis ini rasanya aku ingin sekali menangis, dan kondisiku kurang baik beberapa hari ini. Sudah 4 hari aku merasakan sakit kepala yang luar biasa, rasanya seperti kepalaku ditekan sekuat kuatnya, apa aku harus ke dokter ?

Sebulan lagi aku akan menikah, tentu aku sangat bahagia. Tapi ngga ku sangka kalau menuju hari itu begitu banyak cobaannya. Aku coba bertanya ke beberapa teman dan sepupu yang sudah lebih dulu melalui prosesnya, dan mereka bilang itu hal yang wajar, mereka pun mengalami hal yang sama, dan beda beda pula cobaannya. Saran dari seorang teman dekat, agar aku jalani saja dan nikmati prosesnya, lakukanlah semampunya, bukan semaunya.

Tentu, aku juga inginnya begitu, bukan typeku untuk menjadi orang yang ribet. Aku ingin semua simpel dan sederhana, sangat sangat sederhana bahkan untuk hal apapun itu. Menurutku sesuatu yang tak berlebihan itu sungguh hikmat dan berkah. Tapi apa dayaku, saat memutuskan menikah, itu bukan lagi tentang aku, dia, atau kami saja, tapi ini juga tentang kedua keluarga.

Alhamdulillah calon mertuaku menyerahkan semua pilihan pada kami, tidak ada permintaan khusus. Dan taraaaa …. cobaan itu datang dari keluarga sendiri, lebih tepatnya mamakku. Beliau mau kami mengadakan pesta meski kondisi sedang pandemi seperti saat ini, ya walaupun tidak ada larangan karna disini bukan zona merah. Sudah ku coba bernegosiasi, agar mengadakan yang sederhana, cukup keluarga dan teman terdekat, meski sederhana namun tetap dikemas simpel namun elegan. Namun mamak masih menganut paham orang orang jaman baheulak, dengan alasan yang klasik “kamu itu anak perempuan pertama, harus pesta, apa nanti kata orang”.

Allahu Akbar, ini udah tidak jamannya mikirin kata orang. Apakah kita hidup dan berkembang dari andil dan bantuan mereka ? tidak kan ?. Aku jadi ngga habis pikir. Apakah ngga pesta itu artinya tekdung duluan atau bokek ? Tentu kita lebih tau keadaan yang sebenarnya. Kami bukan tidak mampu, tapi kami lebih menimbang segala sesuatu. Untuk apa menghabiskan uang yang banyak untuk haha hihi menyenangkan orang banyak dalam waktu sehari saja.

Daripada itu, aku lebih memikirkan kehidupan setelah kata SAH itu terdengar. Bagaimana agar bisa hidup cukup tanpa menyusahkan orang lain. Gimana supaya kami bisa mempersiapkan masa depan rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Kalau bisa jauh – jauh dari kata berhutang. Punya tabungan yang banyak untuk bisa menolong dan membahagiakan orang-orang tersayang.

Dan Alhamdulillahnya Allah sayang, Allah kirimkan orang-orang baik di hidupku. Mereka-mereka ini yang mensupport dan ngebantuin aku. Tapi tetap ngga bisa bohong, masih banyak hal untuk difikirkan. Memikirkan printilan yang kudu disiapkan, jangan sampai ada yang terlewat, mikir gimana nanti semua berjalan dengan lancar, karna aku belum tau nih nanti akan ada cobaan apa lagi.

Aku memcoba untuk tetap waras, mencoba buat enjoy ngejalaninnya, tapi tetap selalu ada hal-hal yang jadi fikiran banget, sampe ngga bisa tidur cepet, sampe ngga nafsu buat makan. Menikah itu kan berdua ya, tapi kok aku ngerasain kayaknya aku sendiri aja nih yang mau nikah. Rinal keliatan santai banget orangnya, Beliau sibuk dengan kerjaan dan dunianya aja. Sampai hari ini aja kami belum mendaftarkan pernikahan kami ke KUA, padahal waktu cuma kurang sebulan lagi.

Aku juga jadi serba salah, mau nyinyir ya gimana, kan Beliau sibuk kerja. Aku selalu coba buat jadi lebih pengertian. Tapi apa ngga bisa izin aja kali ini. Aku selalu usaha buat ngelibatin Rinal untuk memutuskan segala sesuatunya, karna ini tentang kami berdua. Contoh sederhana, minta Beliau milih jenis undangan mana yang beliau suka, karna ada beberapa pilihan, tapi katanya semua bagus, dan ujung-ujungnya minta aku yang pilih.

Semandiri-mandirinya aku, jujur aku sangat-sangat butuh sosok beliau. Pengen gitu, beliau yang bertanya “sayang, apa aja yang belum ? ada yang bisa aku bantuin ngga kira-kira ?”. Ya Allah, kudu banyak-banyak istighfar. Harus terima sifat apatisnya, cueknya. Sampe sekarang bertanya-tanya dalam hati, kok bisa sayang banget sama Rinal, padahal aku tu type orang yang senengnya diperhatiin, tapi dapetnya yang cuek, ini gimana ya Allah ? :’)

Cape banget rasanya :’)

Maaf kalau aku lebay, tapi beneran ini yang aku rasain sekarang.